Lestari!!

Selamat datang di Blog Kaki Singgalang....

Senin, 10 November 2008

Hutan Rawa Gambut



Menjelajahi hutan rawa gambut sungguh sebuah petualangan yang membuat fikiran anda akan berubah menjadi lebih segar dan fresh. Sungai yang airnya hitam membuat bayang-bayang satwa liar air seperti buaya rawa cukup membuat anda merinding dan ga berani mandi dengan menceburkan diri ke dalamnya. meskipun sebenarnya bayangan itu mungkin sebuah paranoid yang menghantui fikiran anda. Tumbuhan perdu yang sangat banyak denga beraneka jenis pohon menambah pemandangan indah. Sesekali terdengar kicauan burung2 yang sangat banyak dan unik menambah suasana hutan gambut sangat alami.

Di hutan rawa gambut sangat banyak terdapat jenis satwa yang menarik untuk di perhatikan. Burung, harimau, buaya, ular, monyet, ikan dan berbagai jenis serangga cukup menjadi penyegar jiwa. penjelajahan dapat anda lakukan dengan menggunakan boat, sampan atau kano. Jangan lupa siapkan binocular, kamera atau handycam karena anda akan menemukan banyak hal indah di hutannya.


Gambut mulai gencar dibicarakan orang sejak sepuluh tahun terakhir, ketika dunia mulai menyadari bahwa sumberdaya alam ini tidak hanya sekedar berfungsi sebagai pengatur hidrologi, sarana konservasi keanekaragaman hayati, tempat budi daya, dan sumber energi; tetapi juga memiliki peran yang lebih besar sebagai pengendali perubahan iklim global karena kemampuannya dalam menyerap dan menyimpan cadangan karbon dunia.


Setiap konversi dan eksploitasi lahan gambut akan menyebabkan terlepasnya emisi karbon (CO2) yang mencemari lingkungan global karena terganggunya sistem water table (sistem hidrologis) dimana pada akhirnya mengakibatkan gambut menjadi kering sehingga mudah terbakar. Apabila emisi dari lahan gambut diperhitungkan kontribusinya bagi perubahan iklim di dunia, maka Indonesia tercatat sebagai negara urutan tiga penghasil emisi karbon (CO2) terbesar di dunia. Kemampuan gambut menyerap karbon rata-rata 7 x 102 ton/ha/tahun namun dipengaruhi oleh vegetasi diatasnya dan jenis gambut. Salah satu sifat gambut adalah mampu menyimpan air 15-20 kali berat kering gambut dan bersifat Irreversible (tidak mudah balik) sehingga apabila gambut telah rusak (mati) sangat sulit untuk dikembalikan seperti semula.


Indonesia memiliki Lahan rawa gambut sekitar 20,6 juta ha, atau sekitar 10,8 % dari luas daratan Indonesia. Lahan rawa tersebut sebagian besar terdapat di empat Pulau besar yaitu Sumatera 35%, Kalimantan 32%, Sulawesi 3% dan Papua 30% (Wibowo dan Suyatno,1998). Hasil perhitungan kandungan karbon tanah gambut di Sumatera menunjukkan bahwa pada kondisi tahun 1990 adalah sebesar + 22.283 juta ton, tertinggi terdapat di Propinsi Riau (16.851 juta ton C atau 75,62 % dari total Sumatera). Sedangkan pada kondisi 2002, kandungan karbon Riau mengalami perubahan menjadi 14.605,04 juta ton. Perubahan kandungan karbon tersebut terutama disebabkan adanya perubahan ketebalan gambut, sebagai akibat perubahan penggunaan lahan selama kurun waktu 12 tahun. Penyusutan gambut tertinggi terjadi pada tanah gambut dengan kedalaman sedang yang pada tahun 1990-an telah dibuka untuk pemukiman/pertanian tanaman semusim, kemudian menyusul tanah gambut dengan kedalaman sangat dalam yang akhir-akhir ini dibuka untuk perkebunan kelapa sawit dan areal hutan tanaman industri (Sofyan Ritung dan Wahyunto, 2002).

Nah, sebelum hutan rawa gambut Indonesia habis, segeralah anda berpastisipasi untuk menyelamatkannya dengan cara anda.

Tidak ada komentar: